Pelaksanaan
Diklat Moderasi Beragama di Pusdiklat Kemenag RI – Ciputat – Tangerang Selatan,
berlangsung pada 10-15 April 2023 memberikan pencerahan bagi para peserta. Pelaksanaan diklat ini menjadi penting terkait
moderasi beragama yang menjadi jembatan untuk membantu setiap pemeluk agama
memahami esensi agama masing-masing dan bergerak keluar untuk membangun dialog
yang produktif. Moderasi beragama menjadi roh utama yang terus berhembus di
tengah ancaman kelompok-kelompok ekstrimis yang memahami agama sebagai sarana
untuk memberikan tekanan pada orang lain dan bahkan memandang pemeluk agama
lain sebagai rival yang perlu disingkirkan.
Dari
pembicaraan tentang analisah masalah dan
problematika tentang pemahaman agama yang keliru, memungkinkan penulis untuk
menarik kesimpulan sementara bahwa persoalan mendasar terletak pada tafsir teks
kitab suci dan bagaimana membumikan ajaran agama itu secara benar. Beberapa
konflik yang terjadi selama ini mengemuka,
seakan memandang agama sebagai penyebab utama munculnya konflik sosial itu. Persoalan utama terletak penafsiran teks kitab
suci secara harafiah dan melupakan konteks penulisan teks tersebut.
Memang,
menafsir kitab suci menjadi penting bagi setiap pemeluk agama. Dengan memahami
dan menafsirkan kitab suci secara baik dan benar maka bisa mengarahkan setiap
penafsir untuk memahami secara jernih akan teks kitab suci. Dalam kitab suci
dari beberapa agama, memuat teks tentang peperangan namun tidak bisa dijadikan
alasan untuk menindak dengan kekerasan atas nama kitab suci. Perlu dipahami
bahwa setiap teks kitab suci yang ditulis ribuan tahun lalu memiliki makna
kontekstual waktu itu dan kepada kelompok mana, teks kitab suci itu ditujukan.
Dengan
memahami teks kitab suci secara mendasar dan penafsiran secara proporsional
maka akan membawa seorang pemeluk agama yang toleran. Moderasi beragama yang
menjadi program nasional dari Kementerian Agama, membantu setiap orang untuk
memandang agama lain secara seimbang. Tentang moderasi beragama, Bapak Lukman
Hakim, mantan menteri Agama dan sekaligus pencetus gagasan tentang moderasi
beragama memandang bahwa “moderasi beragama tak pernah menggunakan istilah ‘musuh,’
‘lawan,’ ‘perangi,’ atau singkirkan terhadap mereka yang dinilai berlebihan dan
melampaui batas dalam beragama. Sebab, tujuan moderasi adalah mengajak,
merangkul, dan membawa mereka yang dianggap berlebihan dan melampaui batas,
agar bersedia ke tengah untuk lebih adil dan berimbang dalam beragama. Selain itu,
dalam beragama tidak mengenal seteru dan permusuhan, melainkan bimbingan dan
pengayoman terhadap mereka yang ekstrem sekalipun.” (Valery Kopong)
0 Komentar