Mikhael Lakan Mean Kurouman
Flores - Ende, Gagas Indonesia Satu.com
WARGA desa Tuwagoetobi diaspora di sejumlah daerah memberikan perhatian khusus kepada daerahnya. Bukan hanya Jakarta dan Kupang tapi daerah-daerah lainnya di sejumlah wilayah. Kali ini warga Desa Tuwagoetobi /Honihama yang menetap di Desa Mosambi, Kecamatan Marole, Ende.
Dia adalah Mikhael Lakan Mean Kurouman yang bertugas sebagai staf pengajar di SMAN Maurole, Ende, Flores, NTT. Ketika diminta komentar, Kamis (13 Maret 2025) , soal Penjabat Kades Tuwagoetobi, Yulius Lamawuran ia merasa bahwa yang perlu dibicarakan warga diaspora perlu menyiapkan seorang figur bakal menjadi Kepala Desa Tuwagoetobi. Sebab sosok Penjabat Kepala Desa Tuwagoetobi, yang dikirim Pemda Kab Flores Timur yang belum lama ini bertugas di desa itu hanya terbatas kurun waktu tertentu. Pemerintah setempat hanya menugaskan untuk menggantikan Kepala Desa Tuwagoetobi sebelumnya, Yohanes Kopong Lamatokan.
Menurutnya, penjabat Kepala Desa Tuwagoetobi yang ditempatkan di desa itu merupakan tugas yang diberikan oleh Pemda Flores Timur untuk menjalankan tugas sebagai kepala desa. Oleh karena itu yang lebih penting dibicarakan adalah mengusulkan figur-figur putra Tuwagoetobi /Honihama untuk bisa menggantikan kepala desa.
Hal yang sama pernah diusulkan Kader Lado Rua yang adalah warga Tuwagoetobi yang kini bekerja di Jakarta. Proses pemilihan bakal calon ini penting menurutnya karena wajah desa Tuwagoetobi ke depan harus dipimpin sosok yang memiliki visi serta misi yang jelas. Tentu saja proses atau mekanisme penentuan figur melibatkan semua pihak dan angan sampai melanggar aturan-aturan yang dituangkan dalam peraturan/undang-undang.
Secara spesifik Mikhael menyebutkan figur yang kurang aspiratif membuat warga menjadi tidak puas. Ia bahkan menyebut program pengadaan air bersih yang dilakukan di kawasan Senen, ternyata masih mubasir alias belum terpakai sehingga program pengeboran itu seharusnya membawa hasil baik untuk masyarakat ternyata sampai kini belum dinikmati warga setempat.
Ia mengakui pemerintah pusat dan daerah sesungguhnya tidak salah memberikan bantuan finansial untuk desa-desa di seluruh Indonesia termasuk di Desa Tuwagoetobi, Flores Timur, NTT. Yang menjadi kurang tepat karena setiap kali ada program dan program itu melibatkan pihak luar selalu gagal dalam pengadaan air bersih di wilayah tersebut.
Guru asal Tuwagoetobi /Honihama yang baru lulus P3K di Kabupaten Ende ini mengatakan ada banyak hal yang perlu dikritisi termasuk proses pemilihan Kepala Desa Tuwagoetobi. ia berharap warga Tuwagoetobi diaspora di mana pun, bisa secara bersama-sama sepakat untuk mendorong seorang figur yang diharapkan untuk menjadi kepala desa Tuwagoetobi.
Sementara itu, Andreas Ola Kurouman yang bekerja di Papua saat dihubungi mengatakan pemerintah saat ini (Penjabat Kades Tuwagoetobi) perlu menentukan skala prioritas program. Dan kalau sudah menentukan skala prioritas harus diutamakan, apalagi seperti pengadaan air bersih. "Air bersih itu kebutuhan vital sehingga mau tidak mau harus diutamakan. Aparatur pemerintah desa harus peduli terhadap krisis air yang hampoir setiap tahun menjadi keluhan masyarakat umum,'' pungkasnya. ***
Konrad R Mangu
0 Komentar