Tema renungan kita pada hari ini ialah: Umat Yang Kudus.
Dalam sekolah minggu, guru bertanya kepada anak-anak binaannya: “Apakah
tujuannya Tuhan menolong dan memperhatikan manusia?”. Jawaban anak-anak
beragam. Ada yang berkata bahwa tujuannya ialah supaya Tuhan menyelamatkan
lebih banyak orang. Yang lain berkata supaya manusia gembira dan bahagia. Dan
yang lain lagi berkata supaya Tuhan menunjukkan bahwa cinta-Nya amatlah besar.
Guru bina iman pada akhirnya menyimpulkan bahwa semua
jawaban itu benar. Dasar pemikirannya ialah karena Tuhan ingin kebaikan dan
kebenaran ada pada pihak manusia. Di pihak Tuhan sendiri, tidak diperlukan lagi
suatu kebutuhan untuk membuat Dia menjadi lebih baik dan lebih benar.
Sebaliknya Tuhan berkehendak supaya kita manusia yang fana ini menjadi lebih
baik dan lebih benar. Menurut Injil Matius pada hari ini, Tuhan Yesus
berkehendak supaya kita menjadi umat yang kudus, atau menjadi sempurna
sebagaimana Bapa di surga yang sempurna adanya dalam keabadian.
Sesungguhnya, Tuhan menolong dan memperhatikan kita sejak
lahir sampai kita meninggalkan dunia ini di saat kematian nanti, tujuannya
ialah supaya kita menjadi kudus. Ia menitipkan kita untuk hidup sementara di
dunia ini. Selama berada di dunia ini masing-masing kita dengan batas usia
sendiri-sendiri, berjalan dan berada bersama di dalam terang-Nya kudus.
Terangnya itu berwujud dalam beraneka jenis.
Sabda Tuhan adalah sabda yang kudus. Ungkapan Sabda Tuhan
kita alami melalui pewartaan, bacaan rohani, nasihat atau bimbingan rohani,
berbagi pesan kitab suci, dan ibadat. Pelayanan-pelayanan Gereja baik dalam
bentuk sakramen maupun non-sakramen dan karya kasih juga merupakan
perbuatan-perbuatan mulia dan kudus. Gereja sebagai tubuh dan Yesus Kristus
sebagai Kepalanya adalah kudus. Panggilan suci seperti hidup bakti, imamat dan
perkawinan adalah suci. Nama-nama suci yang melekat pada diri kita masing-masing
ialah kudus. Singkatnya, Tuhan sudah menyediakan semua jalan, sarana, dan cara
yang kudus supaya membantu kita menjadi kudus sama seperti Dia.
Penetapan orang-orang beriman menjadi satu umat yang kudus sudah dilakukan oleh Tuhan Allah sejak zaman Musa dahulu, karena satu umat pilihan harus dikhususkan supaya janji besar-Nya untuk datangnya Mesias, yaitu Yesus Kristus diwujudkan. Kitab Ulangan menegaskan hal ini, untuk mengingatkan kita akan status kita sebagai umat Allah yang kudus, melalui Ibu Gereja kita. Namun demikian, Umat Allah yang kudus sebagai institusi tidak otomatis menjamin bahwa setiap pribadi anggotanya adalah kudus. Sebab tiap-tiap orang memiliki dosa, dan Gereja selalu menyediakan instrumen untuk penghapusan dosa setiap orang. Dalam masa PraPaskah ini, hendaklah kita memanfaatkan instrumen itu. (Rm Peter Tukan, SDB)
0 Komentar