Unordered List

6/recent/ticker-posts

Selamat Jalan Katekis dan Politisi Handal, Eman Milo Wawo

                                            


                                                                Catatan Pater Fritz. SVD 

EMAN MILO WAWO, seorang Katekis, Organis Gereja, Pelatih Koor, Tokoh Politik (PDIP) hari ini Jumat, 21 Maret 2025 mengakhiri hidupnya. 

Kak Eman , begitulah sapaan saya sejak pertama kali menginjakkan kaki di Kota Palangkaraya pada 26 Juli 1993. Waktu itu  Kak Eman adalah seorang Katekis dan Tenaga Administrasi di Sekretariat Paroki St. Maria Palangkaraya. 

Ia datang ke Palangkaraya sekitar tahun 1985, ketika itu ia sebagai seorang “Katekis Pejuang” yang “all out” berjuang bersama para pastor SVD seperti: P. Kletus da Cunha, SVD, P. Gabriel Kaleng Wujon, SVD, P. Norbert Bethan, SVD, P. Raymundus Rede Blolong, SVD, dll. 

Tahun 1993 saat saya datang di Palangkaraya, saya merasa “OKE” dengan Kak EMAN, karena darinya saya belajar tentang banyak hal, menyangkut profil paroki saat peralihan penggembalaan darı Para Pastor MSF kepada SVD, tentang komposisi umat Katolik dalam Paroki St. Maria yang terdiri darı berbagai etnik, tentang budaya orang Kalimantan Tengah, tentang siapa itu Para Tokoh Dayak yang ia kagumi antara lain Bapak Tjilik Riwut, dll.

Kak EMAN, tahu persis seperti apa kondisi internal Paroki St. Maria sebelum saya datang, sehingga begitu saya tiba di Palangkaraya, ia banyak “berkisah” tentang banyak hal, mulai darı profil para pastor hingga realitas hidup umat dalam paroki St. Maria. 

Kak EMAN sangat peduli dan mengharapkan saya sebagai seorang “Adik PASTOR muda” dapat menjaga diri, rendah hati, tahu membawa diri, santun, menghargai dan mendengarkan umat, menjaga komunikasi dan relasi yang baik dengan umat. 

Hanya sebulan kami berjuang bersama di Paroki. Kemudian,  kami pun bersama seluruh umat Paroki, mempersiapkan Rencana PEMEKARAN KEUSKUPAN BANJARMASIN dan PALANGKARAYA menjadi Keuskupan Baru. 

Tahun 1994, sebelum genap satu tahun menjabat sebagai Uskup, Mgr Aloysius Husin, MSF meninggal, P. Martin Anggut, SVD yang saat itu sebagai Pastor Paroki Katedral merangkap sebagai VIKJEND, ditunjuk oleh Kardinal Yulius Darmaatmaja, SJ (yang datang melayat saat itu) menjadi ADMINISTRATOR DIOSESAN Palangkaraya, saat pertemuan bersama Dewan Uskup di Ruang Kerja Pater Vikjend, disaksikan oleh saya sendiri. 

Ketika P. Martin Anggut, SVD menjadi Administrator, saya yang saat itu baru dua tahun sebagai Imam dan sebagai Pastor Rekan, diminta menjadi Pastor Paroki menggantikan P. Martin Anggut, SVD. Di saat Inilah kedekatan saya dengan Kak EMAN, semakin akrab. Ia menjadi KATEKIS dan Tenaga Admin Paroki yang sangat menolong saya. 

Saya yang masih muda, belum punya pengalaman, polos dan bingung - lalu menjadi kuat karena dukungan Kak EMAN, bersama para Anggota Dewan Paroki antara lain, Bapak Frans Rahail, Bapak G. Martoyo, Bapak Lukas Tingkes, Bapak Yusuf Wahyu, dll. Mereka semu adalah “GURU” yang tulus dan jujur mendampingi saya. 

Hampir setiap bulan, saya, Kak Eman, Bapak Simon Nuga (driver dan motoris) dan para Mahasiswa IPI Filial Malang di Palangkaraya pergi turne di Berengbengkel, Pangkoh dan sesekali pergi turne di Katingan, Rungan Manuhing. 

Kak EMAN, adalah sosok Katekis yang serba bisa. Ia seorang organisator, Penggerak Kaum Muda, Pelatih Koor, Organis handal, Arrangger lagu. Beberapa lagu saya diaranggemen oleh Kak Eman. Ia Sungguh “manusia” serba bisa.

Ketika sekian lama, ia dan istrinya ADEL ENSIA, masih berjuang mendapat keturunan, tiba-tiba harapan mereka dikabulkan oleh Tuhan. Jelang pentahbisan Pastor Aloysius Husin, MSF sebagai Uskup Pertama Palangkaraya, lahirlah putera mereka. Kak EMAN minta saya memberi nama. Dan saya beri nama SOTER (Yunani - Penyelamat). 

Selama sebagai Katekis, Kak EMAN juga menjadi Anggota Partai PDIP Kalimantan Tengah. Ia selalu mengajak saya berdiskusi tentang politik, sosial dan budaya. Tahun 1999 saya pindah ke TAYAN - Kalimantan Barat. Perpindahan saya “merenggangkan” hubungan kami karena jarak geografis. 

Suatu saat ia menulis surat kepada saya dan minta supaya nanti saya telepon dia, katanya untuk “curhat” menyangkut pilihan dia untuk mencalonkan diri menjadi Aggota Dewan darı Fraksi PDIP. 

Saya pun akhirnya menelepon Kak EMAN. Kami dua bicara hampir 1 jam. Secara tegas saya katakan, “Kak EMAN, silahkan berjuang menjadi Politisi untuk ikut mengambil bagian dalam tata dunia politik, demi menegakkan Bonum Commune (Kesejahteraan Rakyat).” 

Ia katakan, “Ade Pastor, saya tetap maju, walau banyak tantangan darı dalam.” Dan Kak EMAN pun akhirnya menjadi Anggota Dewan Rakyat Provinsi KALTENG yang sangat vocal, inspirarif dan peduli dengan kepentingan masyarakat dan Gereja. 

Akhir tahun 2005 saya kembali lagi bertugas di Palangkaraya, full di Keuskupan, saat itu Kak EMAN sudah sebagai Anggota Dewan Rakyat dan tidak lagi sebagai Katekis. Walau demikian, kami tetap kompak dan selalu bertemu dan diskusi bersama. 

Ah, masih begitu banyak kisah tentang Kak EMAN. Ketika saya pindah ke Surabaya 2009, Kak EMAN hanya berperan, “Pater Fritz, walau pater tinggalkan Palangkaraya, tetapi kami akan mengenang semua yang pater berikan kepada kami di sini.”

Ternyata ,  pada  Jumat 21 Maret 2025, Kak EMAN "berpulang '  darı lintasan hidup ini. Ia pergi abadi, selamanya tetapi ia meninggalkan banyak harta nilai yang tetap dikenang oleh keluarga Katolik dan mansyarakat  Kalimantan Tengah. 

Kak EMAN, selamat memasuki Kemuliaan Surgawi. Doakan kami semua yang masih berjuang di dunia ini.**

* Surabaya, 21 Maret 2025

Posting Komentar

0 Komentar